ANALISIS PENGARUH FAKTOR-FAKTOR EKUITAS MEREK SEPEDA MOTOR MEREK HONDA TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN

ANALISIS PENGARUH FAKTOR-FAKTOR EKUITAS MEREK SEPEDA

MOTOR MEREK HONDA TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN

(Studi Kasus pada Universitas Sumatera Utara)

Fadli dan Inneke Qamariah

Staf Pengajar FE-USU

Abstract

Marketing is already put an influence to all of our daily activities for individual or organization. Succesful products or services in the market always had a powerful and dominant brand’s name.

he complication of this research is to knowing how is the effect of brand equity which consists of brand awareness, perceived quality, brand association, and brand loyalty on buying decision in University of North Sumatera. The Objective of this research is to to know and to analyze the effect of brand equity consisting of brand awareness, perceived quality, brand association, and brand loyalty on buying decision in University of North Sumatera. The research method used on this research is the quantitative research in which variables are measured with Likert scale. The data collection technic of primary data is by distributing questionnaires, supported by interview session. The direct approach of this research is by using case study which also supported by surveys. Data processing is using the SPSS version 12,0 software with the descriptive analysis and hypothesis tested by multiple regression analysis. The results of the research indicates that (1) as collectively, there are significant effects of brand awareness, perceived quality, brand association, and brand loyalty on buying decision in University of North Sumatera environment; (2) which also as partially, there are significant effect of perceived quality, brand association, and brand loyalty on buying decision in University of North Sumatera environment. Brand loyalty factor has the most dominant effect on buying decision in the University of North Sumatera environment.

Keywords: brand equity, brand loyalty, and buying decision

PENDAHULUAN

Pemasaran pada dasarnya adalah membangun merek di benak konsumen. Kekuatan merek terletak pada kemampuannya untuk mempengaruhi perilaku pembelian. Merek diyakini mempunyai kekuatan yang besar untuk memikat orang untuk membeli produk atau jasa yang diwakilinya. Perkembangan industri sepeda motor di Indonesia dengan bermacam merek yang digunakan oleh perusahaan produsennya juga menjadikan isu merek ini menjadi sangat strategis dikarenakan dapat menjadi sarana bagi perusahaan untuk mengembangkan dan memelihara loyalitas pelanggan. Merek yang kuat akan membangun loyalitas, dan loyalitas akan mendorong bisnis terulang kembali. Merek yang kuat juga akan menghasilkan harga yang menarik dan menjadi penghalang bagi masuknya pesaing. Menurut data penjualan yang dikeluarkan oleh Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) untuk kuartal keempat 2007, Honda membukukan penjualan terbanyak dengan jumlah 2,135 juta unit yang disusul oleh Yamaha dengan 1,923 juta unit, diikuti oleh Suzuki dengan   penjualan   sejumlah   641.929   unit   dan

Kawasaki dengan penjualan keseluruhan sejumlah 28.616 unit. Menurut data tersebut merek yang terlihat dominan berada pada sepeda motor merek Honda yang terus bersaing dengan rival klasiknya yaitu Yamaha diikuti dengan Suzuki.

Melalui Tabel I.1 diketahui bahwa penjualan sepeda motor Honda merek mengalami penurunan dari tahun 2005 hingga tahun 2007. Sedangkan penjualan sepeda motor merek Yamaha mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahunnya.

Dari Tabel I.2 dapat dilihat untuk tahun 2007, total penjualan sepeda motor merek Honda bersaing ketat dengan pesaingnya yaitu merek Yamaha. Secara khusus pada bulan Maret dan Mei 2007, penjualan sepeda motor merek Yamaha melampaui penjualan sepeda motor merek Honda.

Data penjualan sepeda motor di Sumatera Utara dapat dilihat pada Tabel I.3 dan di Kota Medan pada khususnya yang ditunjukkan pada Tabel I.3 juga menunjukkan bahwa sepeda motor merek Yamaha merupakan yang paling besar peningkatan penjualannya dibandingkan dengan sepeda motor merek Honda dan Suzuki.

Demi menjangkau pangsa pasar potensial baru yaitu dari kaum wanita yang didasarkan pada tingginya angka penjualan sepeda motor otomatis merek Yamaha Mio dari Yamaha, PT. Astra Honda Motor kemudian meluncurkan varian sepeda motor

Vario, dan Suzuki Indonesia mengeluarkan produk Suzuki Spin-nya untuk menandingi dan meraih pangsa pasar yang sangat potensial tersebut yang sebelumnya belum pernah tersegmentasi dan diperhatikan secara khusus oleh para produsen sepeda motor.

Tabel I.1. Data Penjualan Tiga Besar Produsen Sepeda Motor di Indonesia Tahun 2004 – 2007 (dalam ribuan unit)
Merek Volume Penjualan
2004

2005

2006

2007

Honda 2.037.888

2.652.888

2.340.032

2.135.366

Yamaha 878.360

1.239.096

1.459.343

1.923.634

Suzuki 845.236

1.107.960

568.041

641.929

Sumber: www.wartaekonomi.com, 20 07
Tabel I.2. Data Penjualan Sepeda Motor di Indonesia Tahun 2007 (dalam ribuan unit)
Periode/Merek Honda Yamaha Suzuki Kawasaki Kanzen Kymco Piaggio
Januari 153.806 133.199 52.309 4.204 2.115

1027

9

Februari 151.806 146.072 46.123 2.914 2.012

1141

5

Maret 151.127 160.235 47.175 3.441 2.318

1121

11

April 138.434 128.271 41.173 3.785 2.424

954

8

Mei 169.331 170.267 32.966 2.665 2.515

673

7

Juni 159.995 155.320 50.391 2.981 2.358

801

11

Juli 143.223 161.016 53.468 3.187 2.489

952

9

Agustus 187.544 168.708 65.334 3.959 2.516

1052

13

September 239.267 164.399 68.261 3.819 2.403

758

6

Oktober 215.477 167.841 64.371 3.471 2.667

686

12

November 212.093 170.119 61.694 3.657 2.519

724

7

Desember 213.263 198.187 58.664 3.314 2.463

767

9

Total 2.135.366 1.923.634 641.929 41.397 28.799

10.656

107

Sumber: Laporan Asosiasi Indus tri Sepeda Motor Indonesia kuar tal ke-4 tahun 2007
Tabel I.3. Data Penjualan Sepeda Motor di Sumatera Utara Tahun 2003 – 2007 (dalam ribuan unit)
Merek Volume Penjualan
2003 2004 2005 2006

2007

Honda 80.736 118.467 135.458 142.014

149.312

Yamaha 21.101 31.192 46.391 72.546

115.852

Suzuki 11.666 19.055 39.047 41.574

40.497

Sumber: CV. Indako Trading Co ., PT.Alfa Scorpii Med an, PT. Sunindo Va ria Motor, 2008.
Tabel I.4. Data Penjualan Sepeda Motor di Kota Medan Tahun 2003 – 2007 (dalam ribuan unit)
Merek Volume Penjualan
2003 2004 2005 2006 2007
Honda 29.518 38.345 39.313 42.057 43.891
Yamaha 8.997 11.059 14.439 20.997 25.296
Suzuki 4.202 6.038 8.868 9.038 12.522
Sumber: CV. Indako Trading Co ., PT.Alfa Scorpii Med an, PT. Sunindo Va ria Motor, 2008.

Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Ekuitas Merek…

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis dimensi ekuitas merek mana yang berpengaruh lebih signifikan pada merek sepeda motor Honda terhadap keputusan pembelian, dimana keempat dimensi ekuitas merek tersebut terdiri dari kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek dan bagaimana pengaruh ekuitas merek terhadap keputusan pembelian sepeda motor merek Honda di lingkungan Universitas Sumatera Utara.

Telaah Kepustakaan

Kajian literatur yang digunakan dengan memfokuskan pada faktor-faktor ekuitas merek terutama pada pemahaman pada kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek, loyalitas merek. Dan literatur yang berkaitan dengan keputusan pembelian.

Definisi Ekuitas Merek

Banyak literature tentang ekuitas merek. Menurut Stanton dalam Rangkuti (2002) “Merek adalah nama, istilah, simbol atau desain khusus atau beberapa kombinasi unsur-unsur ini yang dirancang untuk mengidentifikasikan barang atau jasa yang ditawarkan oleh penjual”. Menurut Retnawati (2003) ”Merek menjadi sangat strategis bagi perusahaan dikarenakan adanya manfaat yang diberikan bagi penjual dan pembeli karena: 1) Pengelolaan merek yang efektif dimungkinkan dapat mempertahankan kesetiaan konsumen yang ada, nantinya bisa dipakai untuk menghambat serangan pesaing dan membantu memfokuskan program pemasaran; 2) Merek dapat membantu dalam melakukan segmentasi pasar; 3) Citra perusahaan dapat dibangun dengan merek yang kuat dan memberi peluang dalam peluncuran merek-merek baru yang lebih mudah diterima oleh pelanggan dan distributor; 4) memberikan ciri-ciri produk yang unik dan perlindungan hukum (hak paten) yang dapat mempermudah prosedur klaim apabila terdapat cacat produksi pada produk yang dibeli oleh konsumen”.Menurut Simamora (2003), ekuitas merek (brand equity) disebut juga nilai merek, yang menggambarkan keseluruhan kekuatan merek di pasar. Ekuitas merek memberikan suatu keunggulan kompetitif bagi sebuah perusahaan karena orang lebih cenderung membeli produk yang membawa nama merek terkenal dan dihormati.

Menurut Aaker (1997), ekuitas merek atau brand equity adalah:

“Seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbolnya, yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah barang atau jasa kepada perusahaan atau para pelanggan perusahaan. Ekuitas merek ini terdiri dari:

kesadaran merek, persepsi kualitas, asosiasi merek, loyalitas merek dan aset-aset merek lainnya seperti paten, cap, saluran hubungan. Empat elemen ekuitas merek di luar aset-aset merek lainnya dikenal dengan elemen-elemen utama dari ekuitas merek. Elemen ekuitas merek yang kelima secara langsung akan di pengaruhi oleh kualitas dari empat elemen utama tersebut”.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekuitas Merek

■     Kesadaran Merek (Brand Awareness)

Menurut Aaker (1997) ”Kesadaran Merek adalah kesanggupan seorang pembeli untuk mengenali dan mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan perwujudan kategori produk tertentu”.

Kesadaran merek membutuhkan jangkauan kontinum (Continum Ranging) dari perasaan yang tak pasti bahwa merek tertentu dikenal menjadi keyakinan bahwa produk tersebut merupakan satu-satunya dalam kelas produk bersangkutan, kontinum ini dapat diwakili oleh tingkat kesadaran merek yang berbeda.

Top Of Mind

/             Brand Recall          ^\

/                Brand Recognition             \.

/_______________ Unware of Brand_____________ _^

Sumber: Aaker (1997)

Gambar I.1. Piramida Brand Awareness

Jangkauan   kontinum   ini   diwakili   oleh   4 tingkatan kesadaran merek, yaitu:

  1. Tidak Menyadari Merek (Unware of Brand) Merupakan tingkatan merek yang paling rendah dimana    konsumen     tidak     menyadari     akan eksistensi suatu merek.
  2. Pengenalan Merek (Brand Recognition) Merupakan tingkat minimal dari kesadaran merek yang merupakan pengenalan merek dengan bantuan, misalnya dengan bantuan daftar merek, daftar gambar, atau cap merek. Merek yang masuk dalam ingatan konsumen disebut brand recognition.
  3. Pengingatan Kembali Merek (Brand Recall) Mencerminkan merek-merek apa saja yang diingat konsumen setelah menyebutkan merek yang pertama kali disebut. Dimana merek-merek yang disebutkan kedua, ketiga dan seterusnya merupakan merek yang menempati brand recall dalam benak konsumen.

4.    Puncak Pikiran (Top of Mind)

Yaitu merek produk yang pertama kali disebutkan oleh konsumen secara spontan atau yang pertama kali dalam benak konsumen. Dengan kata lain merek tersebut merupakan merek utama dari berbagai merek yang ada dalam benak konsumen.

■     Kesan Kualitas (Perceived Value)

Menurut Aaker (1997) ”Kesan atau persepsi kualitas merupakan persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan yang sama dengan maksud yang diharapkannya”.

Secara  umum  nilai-nilai   atau   atribut  dari kesan konsumen dapat digambarkan sebagai berikut:

____          Alasan untuk membeli
——              Diferensiasi/posisi
Persepsi/Kesan Kualitas
——                Harga optimum
——         Minat Saluran distribusi
——               Perluasan Merek

Sumber: Rangkuti (2002)

Gambar I.2. Diagram Nilai dari Kesan Kualitas

Penjelasan dari Gambar I.2 di atas dapat dilihat sebagai berikut:

1.    Alasan membeli

Kesan kualitas sebuah merek memberikan alasan yang penting untuk membeli. Hal ini mempengaruhi merek-merek mana yang harus dipertimbangkan, dan selanjutnya mempengaruhi merek apa yang akan dipilih.

2.    Diferensiasi/posisi

Diferensiasi mempunyai didefinisikan sebagai suatu karakteristik penting dari merek, apakah merek tersebut bernilai atau ekonomis juga berkenaan dengan persepsi apakah merek tersebut terbaik atau sekadar kompetitif terhadap merek-merek lain.

3.    Harga optimum

Keuntungan ini memberikan pilihan-pilihan dalam menetapkan harga optimum yang bisa meningkatkan laba atau memberikan sumber daya untuk reinvestasi pada merek tersebut.

4.    Minat Saluran distribusi

Keuntungan ini yaitu meningkatkan minat para distributor dikarenakan dapat menawarkan suatu produk yang memiliki persepsi kualitas tinggi dengan harga yang menarik dan menguasai lalu

lintas   distribusi   tersebut   untuk   menyalurkan merek-merek yang diminati konsumen. 5.    Perluasan Merek

Kesan kualitas dapat dieksploitasi dengan cara mengenalkan berbagai perluasan merek, yaitu dengan menggunakan merek tertentu untuk masuk kedalam kategori produk baru.

■   Asosiasi Merek

Asosiasi merek dapat menciptakan nilai bagi perusahaan dan para pelanggan, karena ia dapat membantu proses penyusunan informasi untuk membedakan merek yang satu dengan merek lainnya. Berbagai asosiasi yang diingat konsumen dapat menghasilkan suatu bentuk citra tentang merek (brand image) di benak konsumen. Menurut Aaker (1997), “Asosiasi merek adalah segala hal yang berkaitan dengan ingatan mengenai merek. Terdapat lima keuntungan asosiasi merek, yaitu: 1) Membantu proses penyusunan informasi yang dapat meringkaskan sekumpulan fakta yang dapat dengan mudah dikenal konsumen; 2) Perbedaan, yang mempunyai peran penting dalam menilai keberadaan atau fungsi suatu merek dibandingkan lainnya; 3) Alasan untuk membeli, yang sangat membantu konsumen dalam mengambil keputusan untuk membeli produk atau tidak; 4) Perasaan positif yang merangsang tumbuhnya perasaan positif terhadap produk; 5) Menjadi landasan untuk perluasan merek yang dinilai kuat”.

Konsumen yang terbiasa menggunakan merek tertentu cenderung memiliki konsistensi terhadap citra merek (brand image) yang disebut juga dengan kepribadian merek (brand personality) yang kemudian dapat membentuk kesetiaan konsumen terhadap merek tertentu (brand loyalty).

■   Loyalitas Merek

Definisi dari loyalitas merek adalah ukuran dari kesetiaan konsumen terhadap suatu merek (Aaker: 1997). Loyalitas merek merupakan inti dari brand equity yang menjadi gagasan sentral dalam pemasaran, karena hal ini merupakan suatu ukuran keterkaitan seorang pelanggan pada sebuah merek. Apabila loyalitas merek meningkat maka kerentaan kelompok pelanggan dari serangan kompetitor dapat dikurangi. Hal ini merupakan suatu indikator dari brand equity yang berkaitan dengan perolehan laba dimasa yang akan   datang   karena   loyalitas   merek   secara langsung dapat diartikan sebagai penjualan di masa depan.

/CommitedX

                                                                                  / Menyukai merek \

/       Pembeli yang puas       \

/         dengan biaya peralihan        \

/Pembeli yang puas/bersifat kebiasaan,\

/         tidak ada masalah untuk beralih        \

                                                         /               Berpindah-pindah, peka terhadap             \

                                                    /            perubahan harga, tidak ada loyalitas merek           \

Sumber: Rangkuti (2002)

Gambar I.3. Piramida Loyalitas

Melalui gambar piramida loyalitas  di  atas dapat dimengerti bahwa:

  1. Tingkat loyalitas yang paling dasar adalah pembeli yang tidak tertarik pada merek-merek apapun yang ditawarkan. Konsumen seperti ini suka berpindah-pindah merek atau disebut tipe konsumen switcher atau price buyer (konsumen yang lebih memperhatikan harga di dalam melakukan pembelian)
  2. Tingkat kedua adalah para pembeli yang merasa puas dengan produk yang digunakan, atau minimal tidak mengalami kekecewaan. Pada dasarnya tidak terdapat dimensi ketidak puasan yang dapat menjadikan sumber perubahan, apalagi bila perpindahan ke merek yang lain itu ada penambahan biaya. Para pembeli tipe ini dapat disebut pembeli tipe kebiasaan (habitual buyer).
  3. Tingkat ketiga berisi orang-orang yang puas, tetapi harus memikul biaya peralihan (switching cost), baik dalam waktu, uang atau resiko sehubungan dengan upaya untuk melakukan pergantian ke merek lain. Kelompok ini biasanya disebut dengan konsumen loyal yang merasakan adanya suatu pengorbanan apabila ia melakukan penggantian ke merek lain. Para pembeli tipe ini disebut satisfied buyer.
  4. Tingkat keempat adalah konsumen yang benar-benar menyukai suatu merek Pilihan mereka terhadap suatu merek dilandasi pada suatu asosiasi, seperti simbol, rangkaian pengalaman, atau kesan kualitas yang tinggi. Konsumen jenis ini memiliki perasan emosional dalam menyukai merek tersebut.

Tingkat teratas adalah para pelanggan yang setia yang merasakan kebanggaan ketika menjadi pengguna suatu merek karena merek tersebut penting bagi mereka baik dari segi fungsi maupun sebagai alat identitas diri.

■     Teori Keputusan Pembelian

Menurut Kotler (2000) terdapat empat jenis perilaku pembelian konsumen, yaitu: 1) Perilaku pembelian yang rumit: perilaku ini lazim terjadi bila produknya mahal, jarang dibeli, berisiko, dan sangat mengekspresikan pribadi; 2) Perilaku pembelian pengurang ketidaknyamanan/ ketidakcocokan: perilaku ini terjadi bila konsumen melihat sedikit perbedaan di antara merek dan tidak ada yang menonjol, didasarkan kenyataan bahwa pembelian itu mahal dan berisiko, pembeli akan memilih sambil mempelajari apa yang tersedia namun akan membeli dengan cepat; 3) Perilaku pembelian karena kebiasaan: konsumen tidak membentuk sikap terhadap sebuah merek tetapi memilihnya karena itu sudah biasa dikenalnya, tidak dilakukan pencarian informasi tentang merek; 4) Perilaku pembelian yang mencari variasi: kondisi keterlibatan konsumen rendah tetapi ditandai oleh perbedaan merek yang nyata.

Perusahaan harus berusaha memastikan kepuasan konsumen pada semua tingkat dalam proses pembelian.

PerilakuPasca

Pembelian

Pengenalan Kebutuhan ——- ► Pencarian Informasi ——- ► Evaluasi Alternatif ——- ► Keputusan Pembelian ——- ►

Sumber: Setiadi (2003)

Gambar I.4. Tahapan Proses Keputusan Pembelian

Untuk dapat menjelaskan hubungan antara tahapan berdasarkan Gambar II.4 di atas dapat dilihat pada perincian yang dikemukakan oleh Setiadi (2003) sebagai berikut:

Setiadi (2003):1) Proses pengenalan kebutuhan, yaitu ketika konsumen mengenali adanya masalah atau kebutuhan. Kebutuhan itu akan digerakkan oleh rangsangan dari dalam maupun dari luar dirinya; 2) Proses pencarian informasi. Tahap ini merupakan tahapan yang merangsang konsumen untuk mencari informasi lebih banyak mengenai suatu produk; 3) Evaluasi berbagai alternatif merek. Pada tahapan ini konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi merek alternatif dalam menentukan peringkat produk untuk dipilih; 4) Pilihan atas merek produk untuk dibeli, dimana terjadi pembelian produk atas merek yang disukai berdasarkan peringkat dari tahapan 3, tetapi faktor situasi dan pendapat orang lain juga menentukan dalam tahapan ini; 5) Perilaku pasca pembelian. Kepuasan konsumen harus dipantau dari mulai pasca pembelian, tindakan pasca pembelian dan pemakaian produk pasca pembelian.

Pemasaran merupakan permerekan itu sendiri. Suatu permerekan yang tepat akan mempermudah penjualan produk. Permerekan yang tepat akan menarik minat massa untuk datang, melihat dan akhirnya memiliki produk itu. Jika konsumen yang datang telah menyukai strategi merek yang dipromosikan, maka mereka akan melakukan apa saja di dalam batasan tertentu demi merek yang diinginkan, termasuk dalam pembelian terhadap produk atas merek yang diinginkan (Ries: 2001). Melalui Gambar I.5 tentang konsep ekuitas merek yang mempengaruhi proses keputusan pembelian di atas dapat diketahui bahwa merek juga membantu meyakinkan konsumen, dimana mereka akan mendapatkan kualitas yang konsisten ketika mereka membeli produk merek tersebut. Menurut Aaker (1997), “Merek itu berkaitan dengan cara konsumen merasa dan membeli barang-barang bukan sekedar sebuah karakteristik barang-barang tertentu”.

METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa USU yang mengikuti Program Doktor, Program Magister, Pendidikan Profesi, Program Sarjana, Program Ekstensi, dan Program Diploma dan juga seluruh staf administrasi maupun dosen USU yang terdaftar dan aktif mengikuti perkuliahan serta bekerja periode tahun akademik 2007/2008 yaitu sebanyak 34.862 orang (www.usu.ac.id). Sehingga diperoleh jumlah sampel yaitu sebanyak 100 responden.

Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan daftar pertanyaan (questionnaire) dan dengan menggunakan studi dokumentasi.

Kesan Kualitas

Kesadaran Merek

Loyalitas Merek

Asosiasi Merek

Aset Merek Lainnya

Memberikan Nilai Kepada Perusahan Dengan Menguatkan :

>           efesiensi dan efektivitas program pemasaran,

>           loyalitas merek,

>           harga / laba,

>           perluasan merek,

>           peningkatan perdagangan,

>           dan keunggulan kompetitif.


Memberikan Nilai Kepada Customer Dengan Menguatkan Terhadap :

>           Interprestasi   dan  atau proses informasi,

>           rasa percaya diri dalam pembelian,

>           pencapaian kepuasan dari pelanggan

Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Ekuitas Merek…

Definisi OperasionalTabel I.5. Definisi Operasional
Variabel Definisi operasional Indikator

Skala pengukuran

1 2 3

4

Kesadaran merek (X1) Kesanggupan konsumen mengingat merek sepeda motor sebagai kategori produk tertentu, baik melalui tingkat kepopuleran maupun media promosi yang membedakan dengan pesaing. 1.    Pengenalan merek2.    Media iklan

3.    Kegiatan Promosi

Skala Likert

Kesan kualitas (X2) Persepsi atau kesan yang didapat konsumen terhadap penilaian kualitas secara keseluruhan terhadap suatu merek sepeda motor 1.    Kinerja produk2.    Rancangan produk/desain

3.    Nilai fungsional-harga jual

4.    Kesempurnaan produk

5.    Nilai emosional-kenyamanan

Skala Likert

Asosiasi merek (X3) Kesan yang muncul di benak konsumen setelah melakukan penilaian terhadap merek sepeda motor pilihan dibandingkan dengan merek sepeda motor lainnya 1.   Harga produk2.   Keamanan produk

3.   Lokasi penjualan dan purna-
jual

Skala Likert

Loyalitas merek (X4) Keterikatan konsumen terhadap sebuah merek sepeda motor yang mencakup rasa kesetiaan dan kepuasan konsumen terhadap merek sepeda motor pilihan dibandingkan dengan merek sepeda motor lainnya 1.   Merek Prioritas2.   Minat pembelian ulang

3.   Peralihan ke merek lain

Skala likert

KeputusanPembelian

(Y)

Kegiatan penentuan pemilihan produk/jasa oleh konsumen yang umumnya terdiri dari lima tahapan yaitu: Pengenalan Masalah:1.   Pemenuhan Kebutuhan

2.   Produk komoditas

Skala likert

Pengenalan Masalah, Pencarian Informasi, Evaluasi Alternatif, Keputusan Pembelian, dan Perilaku Pasca Pembelian Pencarian Informasi:1.   Hambatan informasi

2.   Pengamatan produk

3.   Penilaian media promosi

Skala likert

Evaluasi Alternatif:1.   Nilai prestise produk

2.   Harga beli secara umum

3.   Nilai jual kembali

4.   Standar kualitas

5.   Nilai ekonomis

Skala likert

Keputusan Pembelian:1.   Pengaruh orang lain

2.   Keinginan dan kemampuan

Skala likert

Perilaku Pasca Pembelian1.     Penilaian terhadap kualitas

2.     Nilai jangka panjang

3.     Rekomendasi kepada orang
lain

4.     Nama baik produsen

Skala likert

Model Analisis Data                                                   Keterangan:

= Keputusan pembelian konsumen = konstanta = koefisien regresi = Kesadaran merek = Kesan kualitas = Asosiasi merek = Loyalitas merek = epsilon atau variabel yang tidak diteliti

Y

Metode analisis data yang digunakan adalah    a

dengan menggunakan analisis statistik regresi linier     B1, B2, B3, B4

berganda   dengan   menggunakan   software   SPSS    X1

(Statistical Package for Social Science) versi 12.        X2

Hipotesis mengungkapkan bahwa kesadaran merek,   X3

kesan kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek     X4

berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen           e
terhadap sepeda motor merek Honda. Persamaan
regresinya adalah sebagai berikut:

Dengan tingkat kepercayaan (confidence interval)

Y = a + B1X1 + B2X2 + B3X3 + B4X4 + e                    95% atau α = 0,05

54

Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 2, Mei 2008: 48 – 58

HASIL PENELITIAN

Semua variabel penelitian telah memenuhi persyaratan yaitu uji validitas dan reliabilitas. Bila korelasi positip dan r tabel sebesar atau sama dengan 0,30 maka butir instrumen tersebut dinyatakan valid atau memiliki validitas konstruk yang baik (Sugiyono: 2004). Menurut Sekaran (2005) yang kurang dari 0,6 adalah kurang baik, sedangkan 0,7 dapat diterima dan reliabilitas dengan Cronbach alpha 0,8 atau di atasnya adalah baik.

HASIL PENGUJIAN HIPOTESIS

Pengujian Hipotesis Secara Serempak

Hasil uji-F berdasarkan Tabel I.6 diperoleh

nilai
Fhitung

sebesar 27,75 dengan tingkat signifikansi

sebesar 0.000. Nilai Ftabel dicari pada tabel F dengan df1 = 4 dan df2 = 95 sehingga diperoleh nilai Ftabel

Fhitung
>

sebesar 2,53 dengan hasil tersebut dimana

Ftabel dan nilai signifikan yang lebih kecil dari pada alpha 5% maka kesimpulan yang dapat diambil adalah signifikan secara statistik. Hipotesis Ha diterima

karena
>
hitung
tabel

(27,75 > 2,53) dan signifikan F <

alpha 5% (0,000 < 0,05) yang berarti bahwa secara bersama-sama terdapat pengaruh signifikan antara variabel bebas yaitu kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek terhadap variabel terikat yaitu keputusan pembelian. Kemampuan variabel kesadaran merek (X1), kesan yang dirasakan (X2), asosiasi merek (X3), dan loyalitas merek (X4) menjelaskan    pengaruhnya    terhadap    keputusan

pembelian sepeda motor merek Honda (Y) ditunjukkan pada Tabel I.7.

Nilai R Square (R2) adalah sebesar 0,620 atau sama dengan 62%. R Square disebut juga sebagai koefisien determinasi. Nilai tersebut berarti bahwa sebesar 62% keputusan pembelian yang terjadi dapat dijelaskan dengan menggunakan variabel kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek. Sisanya yaitu sebesar 38% dijelaskan oleh faktor-faktor penyebab lainnya, dan model dinyatakan layak.

Untuk menguji pengaruh faktor-faktor ekuitas merek yang terdiri dari kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek secara parsial terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap sepeda motor merek Honda di lingkungan USU digunakan uji statistik t (uji t). Apabila nilai thitung > nilai ttabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Sebaliknya apabila nilai thitung < nilai ttabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak. Hasil pengujian hipotesis secara parsial dapat dilihat pada Tabel 1.8.

Berdasarkan hasil regresi linier berganda yang diolah dengan menggunakan bantuan software SPSS versi 12, maka diperoleh hasil persamaan regresi sebagai berikut:

Y = 17.475 + 0,079 X1 + 0,828 X2 + 0,734 X3 + 1,328 X4

Dari Tabel I.8 diperoleh nilai thitung dari setiap variabel independen di dalam penelitian ini. Nilai thitung dari setiap variabel independen akan dibandingkan dengan nilai ttabel dengan menggunakan tingkat kepercayaan (confidence interval) 95% atau α = 0,05 maka diperoleh nilai ttabel 1,960.

Tabel I.6. Hasil Pengujian Hipotesis Secara Serempak
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 1909.628 4 477.407 27.750 .000(a)
Residual 1634.372 95 17.204
Total 3544.000 99

a  Predictors: (Constant), X1,X2,X3,X4

b Dependent Variable: Keputusan Pembelian

Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data diolah)

Tabel I.7. Nilai Koefisien Determinansi (R2)
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .788(a) .620 .600 1.94905
a   Predictors: (Consta nt), Kesadaran Me rek, Kesan Kualitas, Asosiasi Merek, Loyalitas Merek

b Dependent Variable: Keputusan Pembelian Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data diolah)

55

Fadli dan Inneke QamariahTabel I.8. Hasil Pengujian Hipotesis Secara Parsial Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Ekuitas Merek…
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig.
B Std. Error Beta B Std. Error
1 (Constant) 17.475 4.156 4.205 .008
Kesadaran Merek .079 .284 .022 .277 .782
Kesan Kualitas Asosiasi Merek .828 .734 .245 .319 .301 .174 3.373 2.301 .001 .024
Loyalitas Merek 1.328 .291 .418 4.564 .000
a Dependent Variable: Keputusan Pembelian Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data diolah)

Pembahasan Hasil Penelitian

Pemilihan responden adalah mahasiswa USU yang mengikuti Program Doktor, Program Magister, Pendidikan Profesi, Program Sarjana, Program Ekstensi, dan Program Diploma dan juga seluruh staf administrasi maupun dosen USU yang terdaftar dan aktif mengikuti perkuliahan serta bekerja periode tahun akademik 2007/2008.

■    Variabel Kesadaran Merek

Berdasarkan Tabel IV.20 di atas, dapat diketahui bahwa secara parsial pengaruh dari variabel kesadaran merek (X1) terhadap keputusan pembelian (Y) memiliki nilai thitung (0,277) < nilai ttabel (1,960), maka keputusannya adalah menerima H0 dan Ha ditolak. Hal ini berarti variabel kesadaran merek tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian sepeda motor merek Honda.

■    Variabel Kesan Kualitas

Dengan taraf signifikansi 95% dimana diperoleh nilai ttabel 1,960, variabel kesan kualitas memiliki nilai thitung (3,373) > nilai ttabel (1,960) sehingga hipotesis H0 ditolak dan Ha diterima. Ini berarti bahwa ada pengaruh kesan kualitas terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap sepeda motor merek Honda. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Durianto, dkk. (2004) yang menyatakan bahwa kesan kualitas (perceived quality) harus diikuti dengan peningkatan kualitas yang nyata dari produknya. Kesan atau mutu yang dirasakan mencerminkan perasaan konsumen secara menyeluruh mengenai suatu merek, sehingga menjadi sangat berperan dalam keputusan konsumen dalam memutuskan merek yang akan dibeli dan akhirnya akan sampai pada tahap evaluasi yang menuju pada rasa puas dan tidak puas. Kesan kualitas ini merupakan variabel yang secara terus menerus akan diingat oleh konsumen ketika mereka mendengar atau melihat

sesuatu hal yang berkaitan dengan identitas dari suatu produk.

Variabel Asosiasi Merek

Dengan nilai thitung (2,301) > nilai ttabel (1,960) maka hipotesis H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa ada pengaruh asosiasi merek terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap sepeda motor merek Honda. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Aaker (1997) yang menyatakan bahwa asosiasi merek yang memberikan manfaat bagi konsumen (customer benefits), dapat memberikan alasan spesifik bagi konsumen untuk membeli dan menggunakan merek tersebut. Asosiasi merek mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli produk dengan cara memberikan rasa puas berupa kredibilitas dan rasa percaya diri atas merek tersebut.

Variabel Loyalitas Merek

Berdasarkan Tabel I.8 di atas dapat diketahui bahwa pengaruh secara parsial dari variabel loyalitas merek (X4) terhadap keputusan pembelian (Y) dengan nilai thitung (4,564) > nilai ttabel (1,960) maka hipotesis H0 ditolak dan Ha diterima. Penelitian ini sesuai dengan pendapat Sunarto (2003) yang menyatakan bahwa loyalitas merek sebagai sejauh mana seorang konsumen menunjukkan sikap positif terhadap suatu merek, mempunyai komitmen pada merek tertentu, dan berniat untuk terus membelinya di masa depan. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Hatane dan Foedjiawati (2005) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara kepuasan dan keputusan konsumen dengan loyalitas merek. Dari keempat faktor ekuitas merek yaitu kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek diketahui variabel yang paling dominan mempengaruhi keputusan  pembelian  terhadap  sepeda  motor merek Honda adalah faktor loyalitas merek. Hal  Hermawan, Asep, 2003, Pedoman Praktis Metodologi ini dapat dilihat berdasarkan nilai Unstandarized  Penelitian Bisnis, Lembaga Penerbit Fakultas

Coefficients pada Tabel I.8 yang mempunyai nilai             Ekonomi     (LPFE),     Universitas     Trisakti,

koefisien terbesar (1,328) dibandingkan dengan                Jakarta.

nilai koefisien variabel lainnya.                            Kotler, Philip, 2000, Manajemen Pemasaran: Analisis

Perencanaan,          Implementasi,          dan

Pengendalian, Jilid Pertama Edisi Millenium,
PENUTUP                                                                               Penerbit PT Prehallindo, Jakarta

Kuncoro, Mudradjat, 2003, Metode Riset untuk Bisnis
■     Kesimpulan                                                                      & Ekonomi, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Dari hasil penelitian dan pembahasan maka    Mas’ud,       Fuad,       2004,       Survai       Diagnosis
dapat ditarik kesimpulan dari penelitian ini bahwa      Organisasional,  Badan Penerbit Universitas

secara  serempak  ekuitas  merek  yang  terdiri   dari                Diponegoro, Semarang.

variabel kesadaran merek, kesan kualitas,  asosiasi     Nicolino, Patricia F., 2004, The Complete Ideal’s
merek,   dan   loyalitas   merek   berpengaruh   sangat Guide for Brand Management, Edisi Pertama,

signifikan   terhadap   keputusan   pembelian   sepeda             Penerjemah Sugiri, Penerbit Prenada Media,

motor   merek   Honda   di   lingkungan   Universitas               Jakarta.

Sumatera Utara, dan secara parsial variabel loyalitas   Nugroho, Bhuono Agung, 2005, Strategi Jitu Memilih
merek, kesan kualitas dan asosiasi merek berpengaruh             Metode   Statistik   Penelitian   dengan   SPSS,

signifikan   terhadap   keputusan   pembelian   sepeda             Andi Offset, Yogyakarta.

motor   merek   Honda   di   lingkungan   Universitas  Rangkuti,   Freddy,   2002,   The  Power   of Brands
Sumatera Utara, sedangkan variabel kesadaran merek (Tehnik   Mengelola   Brand   Equity   dan

tidak   berpengaruh   signifikan   terhadap   keputusan             Strategi  Pengembangan  Merek),  Penerbit

konsumen dalam melakukan pembelian sepeda motor             pt. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

merek Honda.                                                              Ries & Ries dan Hermawan Kertajaya, 2000, The 22
Variabel yang dominan berpengaruh terhadap Immutable Laws of Branding, Penerbit PT.

keputusan pembelian sepeda motor merek Honda di                Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

lingkungan    Universitas    Sumatera    Utara    adalah             Santoso, Singgih, 2002, Riset Pemasaran: Konsep dan
variabel loyalitas merek. Hal ini berarti bahwa sepeda Aplikasi  dengan  SPSS,  Penerbit PT.  Elex

motor merek Honda telah memberikan keterikatan                   Media Komputindo, Jakarta.

emosional   yang   dipengaruhi   oleh  kepuasan  yang             Sarwono, Jonathan, 2005, Teori dan Praktik Riset
dirasakan oleh konsumen yang telah menggunakan    Pemasaran    dengan    SPSS,    Andi    Offset,

sepeda motor merek Honda.                                                     Yogyakarta.

Sekaran, 2005, Metode Riset Bisnis, Penerbit Salemba

DAFTAR PUSTAKA                                                 Setiadi,    Nugroho    J.,2003,    Perilaku    Konsumen,

Penerbit Prenada Media, Jakarta.

Buku:                                                                           Sevilla, Consuelo,1993, Pengantar Metode Penelitian,
Aaker, David. A, 1997, Manajemen Ekuitas Merek, Penerbit Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Penerbit Mitra Utama, Jakarta.                         Simamora, Bilson, 2003, Aura Merek, Penerbit PT
Ambadar, Jackie, 2007, Mengelola Merek, Penerbit   Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Yayasan Bina Karsa Mandiri, Jakarta.             Sugiyono, 2004, Metode Penelitian Bisnis, Penerbit
Arnold, David, 1996, Pedoman Manajemen Merek,  CV. Alfabeta, Jakarta.

PT. Katindosaho, Surabaya.                             Supranto,  J,   1998, Metode Riset dan Aplikasinya
Arikunto,   Suharsimi,   1998,   Prosedur   Penelitian,             dalam   Pemasaran,   Edisi   Revisi,   Lembaga

Edisi    Keempat,    Penerbit    Rineka    Cipta,             Penerbit    Fakultas    Ekonomi    Universitas

Jakarta.                                                                         Indonesia.

Durianto,       Darmadi       dkk,       2001,       Strategi           Susanto   dan  Wijanarko,   Himawan,   2004,   Power

Menaklukkan Pasar, Penerbit PT Gramedia                Branding (Membangun Merek Unggul dan

Pustaka Utama, Jakarta.                                                Organisasi Pendukungnya), Penerbit Quantum

Durianto, Darmadi, Sugiarto, Dan Lie, Joko Budiman,             Bisnis dan Manajemen, Jakarta.

2004,   Brand   Equity   Ten,   Penerbit   PT   Sutisna, 2003, Perilaku Konsumen dan Komunikasi

Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.                                Pemasaran,   Penerbit   Remaja   Rosdakarya,

Bandung.

Tjiptono,   Fandy,   2005,   Brand   Management   &

Strategi, Penerbit ANDI, Yogyakarta. Tjiptono,   Chandra,dkk,   2004,   Marketing   Scales,

Penerbit ANDI, Yogyakarta. Umar, Husein, 2000, Riset Pemasaran & Perilaku

Konsumen, PT. Gramedia Pustaka Utama,

Jakarta.

Jurnal:

Afiff, Adi Zakaria, 2006, Pengaruh Strategi Brand Extension dalam Mereduksi Negative Reciprocity Effect terhadap Parent Brand, Jurnal Marketing Usahawan, No.12, Tahun XXXV, Desember 2006.

Retnawati, Berta, 2003, Strategi Penguatan Merek dan Revitalisasi Merek Menuju Pengelolaan Merek Jangka Panjang, Jurnal Brand Management Usahawan, No. 07,Tahun XXXII, Juli 2003.

Shellyana J. Dan Basu S.D.,2002, Pengaruh
Ketidakpuasan           Pengguna,Karakteristik

Kategori Produk, dan Kebutuhan Mencari Variasi terhadap Keputusan Perpindahan Merek, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol.17, 2002.

Pratikno,   Nugroho,   2003, ______  ,Jurnal   Sains

Pemasaran Indonesia, UNPAD, Bandung, 2002

Tesis:

Lubis, Aderina, 2007, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Konsumen Dalam Pembelian Sepeda Motor Merek Honda di Kota Medan, Program Magister Ilmu Manajemen, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Panggabean, Donna, 2005, Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Ekuitas Merek Papa Ron’s Terhadap Kepuasan Konsumen (Studi Kasus Pada Restoran Papa Ron’s di Medan), Program Magister Ilmu Manajemen, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Setiawan, Romi, 2006, Analisis Pengaruh Kegiatan Pemasaran Terhadap Penguatan Ekuitas Merek (Studi Pada Consumer – Convenience Goods di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia), Program Magister Universitas Indonesia, Jakarta.

Internet:

Http://aisi..co.id. Dikunjungi tanggal 05 Januari 2008.

Http://wartaekonomi.com. Dikunjungi tanggal 05 Januari 2008.

Http://answer.com. Dikunjungi tanggal 15 April 2008

Hatane,           Samuel           dan           Foedjiawati,

Http://Puslit.Petra.ac.id,_Pengaruh Kepuasan Konsumen Terhadap Kesetiaan merek (Studi Kasus Restoran The Prime Steak & Ribs Surabaya). Dikunjungi tanggal 02 Oktober 2007.

Mariana, www.google.com,_ Analisis Persepsi Konsumen Terhadap Brand Equity Nokia, Samsung, dan Ericcson di Yogyakarta. Dikunjungi tanggal 15 September 2007.

Wahdian, Muharram, http://Digilib.Unikom. ac.id,_Pengaruh Ekuitas Merek Mesin Cuci Lux Terhadap Loyalitas Konsumen di Kotamadya Bandung. Dikunjungi tanggal 20 September 2007.

Sagita, Uung, Http://Digilib.Unikom.ac.id,_Pengaruh Ekuitas Merek Terhadap Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Pada Salon Jhonny Andrean Cabang Bandung Indah Plaza. Dikunjungi tanggal 20 September 2007.

 

 

ANALISIS:

Pemasaran pada dasarnya adalah membangun merek di benak konsumen. Kekuatan merek terletak pada kemampuannya untuk mempengaruhi perilaku pembelian. Merek diyakini mempunyai kekuatan yang besar untuk memikat orang untuk membeli produk atau jasa yang diwakilinya. Perkembangan industri sepeda motor di Indonesia dengan bermacam merek yang digunakan oleh perusahaan produsennya juga menjadikan isu merek ini menjadi sangat strategis dikarenakan dapat menjadi sarana bagi perusahaan untuk mengembangkan dan memelihara loyalitas pelanggan. Merek yang kuat akan membangun loyalitas, dan loyalitas akan mendorong bisnis terulang kembali. Merek yang kuat juga akan menghasilkan harga yang menarik dan menjadi penghalang bagi masuknya pesaing.  dari penelitian ini bahwa secara  serempak  ekuitas  merek  yang  terdiri   dari variabel kesadaran merek, kesan kualitas,  asosiasi merek,   dan   loyalitas   merek   berpengaruh   sangat signifikan   terhadap   keputusan pembelian.

Tahapan prosres keputusan pembeli:

1) Proses pengenalan kebutuhan, yaitu ketika konsumen mengenali adanya masalah atau kebutuhan. Kebutuhan itu akan digerakkan oleh rangsangan dari dalam maupun dari luar dirinya;

2) Proses pencarian informasi. Tahap ini merupakan tahapan yang merangsang konsumen untuk mencari informasi lebih banyak mengenai suatu produk;

3) Evaluasi berbagai alternatif merek. Pada tahapan ini konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi merek alternatif dalam menentukan peringkat produk untuk dipilih;

4) Pilihan atas merek produk untuk dibeli, dimana terjadi pembelian produk atas merek yang disukai berdasarkan peringkat dari tahapan 3, tetapi faktor situasi dan pendapat orang lain juga menentukan dalam tahapan ini;

5) Perilaku pasca pembelian. Kepuasan konsumen harus dipantau dari mulai pasca pembelian, tindakan pasca pembelian dan pemakaian produk pasca pembelian.

 

Jadi dari jurnal yang telah diuji sebelumnya dapat disimpulkan bahwa, merek sangat berpengaruh penting terhadap keutusan konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan. Hal ini menyebabkan merek menjadi salah satu bagian penting dalam menarik konsumen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s